MENIKMATI KECERIAAN PENUH WARNA DI NEPAL



Wajah Kathmandu, ibu kota Nepal umumnya selalu identik dengan wajah penuh kedamaian. Hadirnya sejumlah kuil Hindu dan Budha menjadi alasan mengapa aura damai terasa begitu membekas saat kaki melangkah di salah satu kota cantik di sekitar Pegunungan Himalaya ini. Namun, di balik wajahnya yang damai dan tenang, raut yang penuh keceriaan dari Kathmandu begitu terpancar saat musim semi datang.

Keceriaan tersebut sangat terlihat jelas pada Festival Fagu Purnima atau yang lebih dikenal dengan Holi, sebuah festival yang dirayakan untuk menyambut kedatangan musim semi. Pada festival yang biasanya jatuh di akhir Maret setiap tahunnya menurut penanggalan kalender Hindu, Kathmandu seolah bersolek bak putri kerajaan yang menari-nari dengan ceria. Begitu langkah sampai di Lapangan Durbar, festival pun berlangsung dengan suasana yang cukup santai. Dan, bersiaplah untuk berdansa dan turut larut dalam keriaan “Sang Putri” karena setiap orang yang turut serta akan saling menyiram bubuk warna-warni yang terbuat dari tepung jagung ditambah dengan sejumlah pewarna makanan alami seperti bunga atau buah-buahan.

Di balik aura keceriaannya, beragam doa dan harapan juga terselip dari warna dan prosesi saling menyiram bubuk warna yang kerap disebut Gulal ini. Ada warna merah yang menjadi simbol akan cinta dan persaudaraan yang diharapkan selalu melekat pada setiap orang dan juga ada warna kuning yang identik dengan tumbuhan kunyit yang kerap digunakan dalam pengobatan tradisional sehingga bermakna agar siapapun yang menerimanya selalu diberikan kesehatan yang baik. Lalu, ada warna hijau yang melambangkan harapan yang senantiasa baru serta kemakmuran dan kesuburan serta warna biru yang melambangkan Dewa Krishna dan menjadi pesan bahwa segala sesuatunya merupakan karunia dari yang Maha Kuasa.

Acara pendirian tiang bambu berjuntai kain warna-warni disebut Chir yang menandai dimulainya hari pertama Festival Fagu Purnima di depan Rumah Kumari di Durbar Square juga tidak kalah mengundang antusias. Sejumlah orang dalam acara ini turut serta bersama-sama mendirikan tiang bambu di atas sebuah lubang yang telah dipersiapkan. Sembari tiang bambu didirikan, terdengar begitu syahdu lantunan puji-pujian suci. Masyarakat berharap dengan didirikannya Chir, dewa-dewi memberkati tanah mereka kian subur mengingat Nepal sendiri merupakan negara yang cukup mengandalkan sektor pertanian dalam perekonomiannya. Pada hari terakhirnya, tiang tersebut akan dibakar dan masyarakat Nepal sendiri akan beramai-ramai membawa pulang abu sisa pembakaran tiang yang dipercaya melindungi mereka dari serangan roh-roh jahat.

Sangat berkesan dan tentunya menjadi sebuah keceriaan tersendiri dapat menyaksikan sisi yang sangat meriah dari Nepal yang damai. Waktunya untuk menjelajahi lebih dalam kemeriahan Nepal dalam program Nepal and Bhutan bersama Wita Tour, Sahabat Perjalanan Anda.

Comments