Eksotisme khas Negeri Matador di Manila

Sebagai ibu kota dari Filipina, Manila kini semakin berkembang sebagai kota metropolitan sekaligus pusat perekonomian dan hiburan. Meski telah berkembang sebagai kota metropolitan, eksotisme Spanyol tak terpisahkan dari Manila khususnya pada Kota tua yang memiliki luas 64 hektar dan dikelilingi tembok sepanjang 4 kilometer ini dahulunya pernah digunakan sebagai benteng pertahanan Bangsa Spanyol pada tahun 1521 di Manila. Tak hanya sebagai benteng pertahanan, tempat ini dahulu merupakan pusat militer, pemerintahan, pendidikan dan keagamaan sehingga terdapat juga gereja, sekolah dan rumah-rumah penduduk yang beberapa di antaranya masih berdiri tegak hingga saat ini.
Salah satu bangunan di Intramuros yang masih tampak kokoh adalah Gereja San Agustin. Dengan arsitektur klasik khas Art Deco, gereja yang terdiri dari 2 lantai ini memiliki interior yang mirip dengan Basilika Santo Petrus di Roma terlebih lagi dengan kehadiran lonceng besar dan lukisan indah di sepanjang dinding dan langit langit gereja. Di balik keindahan dan kemegahannya, gereja tertua di Filipina yang dibangun pada tahun 1571 oleh para biarawan ordo Santo Agustinus ini juga telah diakui sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO.
Selain ruang utama yang digunakan untuk beribadah dan pernikahan, gereja ini juga memiliki ruangan lain yang berfungsi sebagai kolumbarium dan makam dari beberapa tokoh penting dalam sejarah Filipina. Untuk Anda yang tertarik dengan sejarah Katolik dan ordo Santo Agustinus di Filipina, gereja ini juga memiliki Museum San Agustin yang letaknya tak jauh dari bangunan utama Gereja San Agustin. Di dalam bangunan museum yang pernah berfungsi sebagai biara ini, terdapat galeri berisi ribuan koleksi antik dan seperti berbagai patung santo dan santa, lukisan minyak para Santo Agustinian, benda liturgi seperti jubah pastor dan cawan ekaristi, serta sejumlah perabot keramik. Beroperasi dari pukul 8 pagi hingga pukul 6 sore waktu setempat, museum ini tidak mengenakan biaya masuk.
Tidak jauh dari Gereja San Agustin, bangunan lainnya yang menarik untuk dikunjungi adalah Plaza San Luis yang terletak di seberang Gereja San Agustin. Saat kaki melangkah ke lapangan ini, eksotisme khas Spanyol seperti Las Ramblas di Barcelona. Kekentalan eksotis khas Spanyol semakin kental dengan kehadiran jalan setapak dari batu ubin datar generik, dinding bangunan yang terbuat dari batako putih, jendela capiz bermotif rumit, serta air mancur dan menara di sepanjang lorong. Di antara rumah-rumah replika yang mewakili arsitektur era Filipina-Spanyol salah satunya yang terkenal adalah Casa Manila. Bangunan berlantai tiga yang kini menjadi museum ini juga mewakili gaya hidup masyarakat 'Illustrados' sebutan bagi masyarakat terpandang pada abad ke 19. Terdapat berbagai perabot dan dekorasi mewah perpaduan khas Eropa, Tionghoa dan lokal yang mengisi ruang keluarga, dapur dan ruangan lainnya di rumah ini. Anda bebas mengelilingi seluruh ruangan di Casa Manila dan mengamati seluruh perabotannya dari dekat, tetapi Anda dilarang mengambil foto di tempat ini. Sambil menikmati suasana Manila tempo dulu, nikmatilah kopi hangat di beberapa restoran di sekitar serta berbelanja cindera mata di sekitar kompleks ini.
Jika sudah berada di Intramuros, rasanya tidak lengkap bila tidak mengunjungi eks pangkalan militer Spanyol di Fort Santiago. Letaknya yang di muara sungai Pasig, dahulu tempat ini juga pernah menjadi gerbang perdagangan Filipina dengan bangsa-bangsa lain. Begitu memasuki kawasan, gerbang besar dan megah dengan ukiran khas Kerajaan Spanyol lengkap dengan ukiran relief Santiago (St James), santo pelindung Kerajaan Spanyol saat menaklukkan penguasa setempat.
Begitu masuk ke dalam, Anda akan menemukan taman terbuka dengan deretan patung tokoh penting di Filipina seperti para biarawan, tentara maupun tokoh sejarah lainnya seukuran manusia. Benteng ini menyimpan sejarah penting Filipina khususnya mulai dari penahanan hingga eksekusi terhadap pahlawan nasional Jose Rizal yang mendukung perlawanan terhadap koloni Spanyol. Jejak Jose Rizal di benteng ini sangat terlihat jelas pada ruang tahanannya, tempat eksekusinya, coretan syairnya di tembok hingga cetakan perunggu jejak terakhir Jose Rizal saat menuju tempat eksekusi. Biaya masuk ke Fort Santiago adalah sebesar 100 peso filipina atau setara dengan 27 ribu rupiah.
Usai melihat-lihat kekayaan sejarah Filipina, tidak salahnya Anda mencicipi berbagai kuliner khas setempat, seperti Adobo bahan utama daging babi atau ayam yang selalu direndam dengan cuka, saus kecap, merica dan beberapa bumbu khas Filipina lainnya sebelum ditumis. Rasanya yang asam dan gurih, sangat pas saat disantap bersama nasi hangat yang disiram saus adobo. Hidangan ini dapat Anda cicipi di sejumlah tempat makan di Filipina, salah satunya Paco Wet Market dengan kisaran seharga 115 peso Filipina atau setara dengan 32 ribu rupiah.
Ada sup buntut dan babat sapi Kare Kare yang kuahnya terbuat dari saus kacang tanah dan bumbu tradisional yang terbuat dari fermentasi udang serta bumbu tradisional lainnya menambah citarasa sup ini. Daging yang dihidangkan direbus selama berjam-jam untuk mendapatkan tekstur yang lembut kemudian dihidangkan bersamaan dengan sayuran terong, wortel, bawang, kacang tanah, jantung pisang, dan juga nasi hangat cukup merogoh kocek sebesar 298 peso Filipina atau setara dengan 81 ribu rupiah. Untuk hidangan penutup, Manila juga memiliki Halo-Halo yang merupakan es campur khas Filipina berupa kombinasi es krim dan es serut serta buah nangka, kelapa, pisang, nata de coco, ketan jagung dan susu yang sangat pas disantap di tengah udara Manila yang cukup terik. Harganya es campur khas Filipina ini sekitar 170 peso Filipina setara dengan 46 ribu rupiah. Kedua hidangan ini dapat Anda coba di Salcedo Market yang buka setiap hari Sabtu atau di beberapa restoran, salah satunya Cabalen Restoran yang memiliki beberapa cabang di Manila.
Ingin menelusuri sensasi Spanyol-nya Asia di Filipina ambil menikmati kulinernya yang lezat? Pesan sekarang juga tiket dan akomodasi terbaik di Manila di Wita Tour.

Comments