PESONA NEGERI MAGHRIBI TUNISIA YANG TAK LEKANG OLEH WAKTU

Terletak di pantai Mediterania Afrika Utara dan sebelah barat Samudra Atlantik, Tunisia memang memiliki berbagai keindahan peradaban bersejarah yang indah dan tak lekang oleh waktu.


Tunis sebagai ibu kota negara ini misalnya. Salah satu jalanan besar di kota ini yang bernama Avenue Habib Bourgiba memiliki nuansa Eropa khas Perancis yang cukup kental mengingat negara ini merupakan salah satu bekas kolonial Perancis. Daerah yang pernah menjadi tempat tinggal orang-orang Perancis ini kini menjadi daya tarik wisata yang terkenal dengan deretan pepohonan, gedung pertokoan bernuansa Perancis serta deretan kafe yang ramai kian menambah sentuhan keglamoran seperti di Paris, Perancis. Berbicara soal kafe yang berderet di jalan ini, ada dua makanan yang menarik dan menemani jalan jalan santai di sini. Ada Brik, pastry yang mirip dengan pizza yang dilipat segitiga dengan isian telur, keju mozzarella, udang atau ikan tuna, dan kadang disiram saus jeruk di atasnya. Pastry-nya renyah, terasa seperti makan pizza yang digulung dengan crepe ala Perancis dengan rasa gurih telur dan keju di dalamnya yang berpadu dengan segarnya rasa saus jeruk di atasnya serta udang dan ikan di dalamnya. Usai menikmati santapan gurih, rasanya lidah ingin lagi mencicipi santapan manis dan mata pun langsung tertuju pada sebuah kue bertabur gula yang disebut oleh orang lokal sebagai Bambalouni. Sekilas memang makanan ini mirip donat biasa, tetapi saat dimakan teksturnya lebih garing dan tidak memiliki adonan yang sepadat donat biasa. Manisnya pun cenderung lebih toleran dari donat dengan sentuhan sedikit gurih dan semakin cocok rasanya saat diberi isian almond atau pasta jeruk di dalamnya.


Puas menikmati berbagai peninggalan yang indah dari masa kolonial Perancis, rasa penasaran semakin muncul untuk flashback ke era yang lebih jauh lagi karena usut punya usut negara ini juga pernah menjadi tempat penting di era Kekaisaran Romawi. Setelah mencari-cari di manakah jejak peninggalan Romawi itu, ketemulah jejak tersebut ada di Carthage. Tidak jauh dari Tunis, kota ini dapat dicapai menggunakan bus yang berangkat setiap 20 menit dari Jardin Habib Thameur Bus Station dengan jarak tempuh 40 menit atau kereta yang berangkat dari Tunis Marine Station setiap 15 sampai 20 menit dengan jarak tempuh 30 menit menuju Carthage. Mengingat jarak tempuh yang tidak berbeda jauh, bus sepertinya memang menjadi pilihan yang tepat agar dapat menikmati pemandangan Tunisia dengan leluasa. Sampai di Carthage, kaki pun terasa tak sabar berjalan untuk menikmati peninggalan bersejarah yang menarik dari Kekaisaran Romawi di sini. Berbagai ukiran patung, reruntuhan pilar bangunan megah Romawi serta sejumlah reruntuhan bekas area pemandian yang ada di sekitar benar benar membawa suasana hati seperti berada di era Kekaisaran Romawi apalagi juga didukung dengan cuaca yang sedikit terik. Karena masih penasaran dengan peninggalan Romawi lainnya, perjalanan pun kembali berlanjut ke Colosseum El Djem. Sampai di tempat ini, rasanya seperti berada di Roma, Italia. Maklum dari luar saja hingga ke dalam, colosseum ini sangat mirip dengan Colosseum Roma. Sama seperti Colosseum Roma, tempat ini juga pernah menjadi arena pertandingan para gladiator atau balap kereta kuda sehingga struktur bangunannya pun tidak berbeda jauh yakni berkonsep amfiteater. Colosseum ini juga tercatat sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.


Tidak hanya peninggalan peradaban bersejarah di era Romawi dan Perancis, lokasi Tunisia yang berada di antara Laut Mediterania dan Gurun Sahara membuat Negeri Maghribi ini juga memiliki pesona alam yang luar biasa. Sidi Bou Said yang berlokasi 20 kilometer dari Tunis dan tidak jauh dari Reruntuhan Romawi Carthage menawarkan sensasi pemandangan lautan biru yang sangat mempesona. Warna-warni perumahan yang didominasi warna putih dan biru membuat suasana hati kian terasa sejuk bagaikan di Pulau Santorini, Yunani meski cuaca panas matahari terasa terik. Makin berjalan ke dalam, tempat ini juga semakin terasa cantik untuk diabadikan dalam foto instagrammable dengan kehadiran deretan toko penjual suvenir maupun pengrajin keramik. Beralih dari suasana kota tepian laut yang cantik, saatnya beranjak ke Matmata di Gurun Sahara Tunisia yang juga pernah menjadi lokasi dari pembuatan film Star Wars. Di lokasi yang dikatakan sebagai kota kelahiran tokoh Luke Skywalker dari Star Wars, terdapat rumah bawah tanah peninggalan suku Berber. Rumah bawah tanah ini memiliki struktur yang sangat unik karena berasal dari tanah lunak dataran gurun yang digali membentuk bangunan dengan lorong-lorong rumah di bawahnya. Melengkapi momen terbaik di salah satu padang gurun terbesar di dunia ini, naik unta menjadi momen yang sangat menarik menutup perjalanan di Matmata. Pemandangan hamparan gumuk pasir berwarna sedikit keemasan yang dinikmati dari atas punuk unta semakin membuat perjalanan ini semakin tidak terlupakan.


Ingin menikmati Pesona Negeri Maghribi yang tak lekang oleh waktu? Temukan penawaran menarik bersama Wita Tour dalam program tur Cyprus, Malta & Tunisia.

Comments